Tags

, , , , , , , , , , , , ,


Siswa Gen-Net dan Pembelajaran dengan Internet

Parlindungan Pardede

 Universitas Kristen Indonesia

Pada suatu malam di tahun 1962, dalam mimpinya, Pak Tigor, seorang guru SMA di Medan dikunjungi Malaikat.

“Sebagai apresiasi atas dedikasi, kreativitas, dan inspirasi Bapak bagi siswa/i Bapak, aku diberi tugas untuk mengabulkan 2 permintaan,” kata sang Malaikat.

Setelah rasa kagetnya berkurang, Pak Tigor bertanya, “Aku boleh mengajukan permintaan apa saja?”

“Apa saja, yang tidak merugikan orang lain,” sahut sang Malaikat.

“Malaikat yang baik, di antara berbagai buku yang pernah kubaca, salah satu yang paling berkesan adalah novel The Time Machine, karya H.G. Wells. Seperti tokoh dalam novel itu, aku ingin dapat berkunjung ke masa depan.”

“Okay. Bapak mau berkunjung ke tahun berapa dan kemana?”

“Aku dulu kuliah di Jakarta. Aku cukup akrab dengan kehidupan di sana di akhir 1950-an. Tapi aku pengen tahu kehidupan di sana 50 tahun mendatang.”

“Baik. Bapak kutemani mengenyam kehidupan Jakarta tahun 2012,” kata si Malaikat. Begitu kalimatnya selesai, dia dan Pak Tigor sudah berada di sekitar Bundaran HI Jakarta tahun 2012 dan segera check in di salah satu hotel berbintang 5 di Jalan Sudirman. Setelah beristirahat, sang Malaikat membawa Pak Tigor ke sebuah mall. Pak guru ini diberi kebebasan membeli apapun yang disukainya. Namun beliau hanya membeli beberapa potong pakaian yang diperkirakannya akan dibutuhkan selama berada di Jakarta. Sebenarnya dia bermaksud membeli beberapa buku, novel dan majalah. Namun si Malaikat berkata: “Tidak usah repot-repot, Pak, membeli begitu banyak bacaan. Bapak ambil saja komputer tablet ini, dan Bapak bisa membaca jutaan buku, novel, majalah, koran, dan bacaan lainnya.”

Walau terlihat ragu terhadap pernyataan si Malaikat, Pak Tigor setuju tidak jadi membeli buku, novel dan majalah yang sudah dipilihnya dan menggantinya dengan satu unit komputer tablet.

Setelah diajari cara mengoperasikan alat canggih tersebut beberapa menit, Pak Tigor langsung bisa mengakses situs-situs yang dia sukai. Dengan takjub, dia berkata. “Luar biasa perkembangan teknologi Abad ke-21 ini. Dengan komputer ini aku bisa menikmati banyak bacaan. Semua jenis informasi tersedia dalam jumlah tak terbatas. Pengetahuan yang kuperoleh dalam dua hari melalui alat ini terasa lebih banyak dibandingkan dengan yang kupelajari selama setahun yang lalu.”

Karena sudah mahir menggunakan komputer tabletnya untuk memperoleh informasi mengenai objek wisata dan tempat lain untuk dikunjungi, Pak Tigor diberi hak untuk menentukan kemana saja mereka akan berkunjung. Setelah puas mengunjungi berbagai objek selama 10 hari, sang Malaikat bertanya:

“Kesan apa yang Bapak peroleh tentang semua tempat dan objek yang sudah kita kunjungi?”

“Semuanya menakjubkan. Walaupun para futurologis, seperti Edward Bellamy, H.G. Wells, Marshall Mcluhan, dan Archibald Low telah banyak memberikan gambaran kehidupan masa depan, tetap saja kami di tahun 1960-an tak pernah membayangkan kehidupan di awal abad 21 akan seperti ini. Tak pernah terbayang banyak gedung dengan tinggi lebih 200 meter namun kita tidak perlu berkeringat naik ke atas dengan tangga. Lalu alat-alat serba otomatis di pabrik-pabrik yang kita kunjungi…, luar biasa! Peralatan kantor yang serba modern. Bahkan, membayar belanjaan tidak lagi dengan uang, … cukup dengan kartu saja … itu juga tidak pernah terpikirkan olehku.

“Kalau begitu, Bapak senang dapat bersentuhan langsung dengan semua tempat dan objek yang kita kunjungi?” si Malaikat bertanya.

“Ya…sangat senang, kecuali….”

“Kecuali apa, Pak?”

“Kecuali setelah kita mengunjungi tiga sekolah tadi, saya jadi sedih.”

“Mengapa sedih, Pak?”

……..

Untuk membaca bagian selanjutnya, klik–> EduLightMedia Edisi I No.2 Mei 2012.
Advertisements