Tags

, , , , , ,


Penerjemahan Metafora

Parlindungan Pardede

Universitas Kristen Indonesia

 

Pendahuluan 

Metafora lazim digunakan dalam komunikasi sehari-hari untuk memperkenalkan objek atau konsep baru atau menawarkan makna yang lebih tepat. Namun ungkapan ini digunakan secara lebih intensif dalam karya sastra, khususnya puisi. Selain untuk  memperkenalkan objek atau konsep baru seperti dalam komunikasi sehari-hari, dalam puisi metafora digunakan untuk mengungkapkan makna secara singkat dan padat dan sekaligus menghadirkan efek puitis.

Makalah ini menyoroti konsep-konsep yang berkaitan dengan penerjemahan metafora. Pembahasan diawali dengan kontroversi translatibilitas metafora, yang kemudian dilanjutkan dengan strategi penerjemahan yang dapat digunakan dalam pekerjaan menerjemahkan metafora. Pada bagian akhir, secara singkat diulas aspek-aspek yang memengaruhi pemilihan strategi penerjemahan metafora.

 

Translatibilitas Metafora (Metaphor Translatibility)

Meskipun sering digunakan, metafora ini sering dijuluki sebagai ekspresi yang misterius karena maknanya sulit dijelaskan, apalagi diterjemahkan, sehingga metafora dipandang sebagai bagian paling sulit dalam tugas penerjemahan. Menurut Newmark (1998: 104), masalah utama dalam penerjemahan secara umum adalah pemilihan metode penerjemahan bagi sebuah teks, sedangkan masalah penerjemahan yang paling sulit secara khusus adalah penerjemahan metafora. Sebagai akibat dari kesulitan itu, terdapat dua pandangan yang bertentangan secara ekstrim mengenai translatibilitas metafora. Menurut Dagut (1987: 25), di satu pihak, tidak sedikit ahli penerjemahan, seperti Nida, Vinay and Darbelnet, yang menganggap metafora tidak bisa diterjemahkan. Di pihak lain, beberapa tokoh, seperti Kloepfer dan Reiss, menganggap bahwa metafora, sebagai bagian dari bahasa, bisa diterjemahkan. Translatibilitas ini didukung oleh beberapa kajian yang menunjukkan bahwa, walaupun sebagian metafora harus diterjemahkan secara ekstra hati-hati, majas ini tetap bisa diterjemahkan. Selain kedua pihak yang beroposisi di atas, tidak sedikit pakar penerjemahan yang tidak mau terlibat dalam persoalan penerjemahan metafora. Akibatnya, teori dan kajian tentang penerjemahan metafora yang tersedia sangat minim.

Terdapat paling tidak tiga penyebab sulitnya penerjemahan metafora. Pertama, seperti dijelaskan oleh Dagut (1987: 24), metafora dalam BSu, pada hakikatnya, merupakan unsur semantik yang baru. Akibatnya, BSa tidak memiliki persediaan padanan untuk metafora itu. Kedua, metafora merupakan bagian dari sebuah bahasa, dan semua bahasa pada hakikatnya tidak terpisahkan dari budaya. Akibatnya, kebanyakan metafora sangat sarat dengan nilai-nilai budaya. Sehubungan dengan itu, metafora hanya dapat dipahami jika nilai-nilai budaya yang terkait dengannnya telah terlebih dahulu dipahami. Ketiga, metafora merupakan sarana untuk mengungkapkan makna secara kreatif, singkat, dan padat. Oleh karena itu, agar mampu menerjemahkan metafora, penerjemah harus mampu menulis secara kreatif.

Senada dengan itu, Larson (1998: 275-276) menjelaskan enam penyebab sulitnya memahami dan menerjemahkan metafora. Penyebab pertama adalah citra yang digunakan dalam metafora mungkin tidak lazim dalam BSa. Sebagai contoh, ungkapan “white as snow” tidak begitu dipahami oleh penutur bahasa Indonesia. Ungkapan itu lebih baik diterjemahkan menjadi “seputih kapas”.  Ke dua, topik metafora tidak selalu dinyatakan dengan jelas. Sebagai contoh, ungkapan “the tide turned against the government” sulit dipahami pembaca karena ketidaktahuan bahwa “the tide” mengacu pada “opini public”. Ketiga, titik kesamaan kadang-kadang implisit sehingga sulit diidentifikasi atau mengakibatkan pemahaman yang berbeda bagi penutur bahasa lain. Sebagai contoh, ungkapan “He is a pig” bisa diapahami menjadi “Dia jorok”, atau “Dia rakus” dalam budaya tertentu. Ke empat, perbedaan budaya BSu dan BSa dapat membuat penafsiran yang berbeda terhadap titik kesamaan. Ke lima, BSa mungkin tidak membuat perbandingan seperti yang terdapat pada metafora TSu. Sebagai contoh, bahasa Inggris mengungkapkan perdebatan yang sengit dengan ungkapan “storm”, seperti dalam “There was a storm in the parliament yesterday”. Namun bahasa lain  mungkin menggunakan “fire”, bukan “storm” untuk menyatakan hal yang sama. Keenam, setiap bahasa memiliki perbedaan dalam penciptaan dan penggunaan ungkapan.

Berdasarkan kajiannya atas beberapa bagian sebuah novel Ibrani dan terjemahannya dalam bahasa Inggris, Larson (1998: 17) menyebutkan dua faktor yang menentukan  translatibilitas metafora. Pertama, pengalaman kultural khusus dan asosiasi semantik yang dieksploitasi oleh metafora tersebut. Jika vehicle (topik) sebuah metafora sarat dengan muatan budaya dan asosiasi semantik yang spesifik, metafora itu tidak bisa diterjemahkan. Faktor kedua adalah faktor linguistik. Jika sebuah metafora mengandung unsur-unsur leksikal spesifik yang tidak bisa direproduksi dalam bahasa target, metafora itu tidak bisa diterjemahkan.

Sedangkan van den Broeck (1981)  menjelaskan bahwa kaidah penerjemahan teks secara umum berlaku juga pada penerjemahan metafora. Namun, mengingat hakikat metafora yang memiliki kekhususan, kaidah berikut dapat diterapkan pada penerjemahan metafora: (1) Tingkat translatibilitas tinggi jika bahasa BSu dan BSa merupakan “jenis” bahasa yang dekat, dengan catatan poin kedua dan ketiga berikut dipenuhi. (2) Tingkat translatibilitas tinggi bila BSu dan BSa memiliki kontak. (3) Tingkat translatibilitas tinggi jika evolusi kebudayaan secara umum di BSu dan BSa sejajar. (4) Tingkat translatibilitas rendah bila penerjemahan melibatkan lebih dari satu jenis informasi. Dengan kata lain, sebuah teks dengan kandungan satu informasi lebih mudah diterjemahkan daripada teks dengan jenis informasi yang banyak.

Snell-Hornby (1955: 41), yang mengadopsi dan mengembangkan model  van den Broeck, menekankan bahwa translatibilitas sebuah metafora tidak dapat ditentukan hanya melalui “seperangkat kaidah-kaidah yang abstrak” tetapi tergantung pada struktur dan fungsi metafora dalam teks yang dikerjakan. Tingkat translatibilitas sebuah metafora ditentukan oleh tingkat kekhususan budaya teks sasaran serta jarak geografis dan waktu pemisah latar belakang budaya antara  BSu dan BSa.

Paparan di atas mengungkapkan bahwa keunikan metafora dalam penerjemahan membuat pandangan para ahli terhadap translatibilitas majas ini cukup beragam. Sebagian ahli menganggap metafora tidak bisa diterjemahkan. Sebagian lagi berpendapat, metafora bisa diterjemahkan. Bahkan tidak sedikit yang menjaga jarak dengan permasalahan ini sehingga teori dan kajian tentang penerjemahan metafora masih sangat sedikit. Berdasarkan prosedur dan strategi yang ada, terlihat bahwa keunikannya membuat penerjemahan setiap metafora perlu diawali dengan pemilahan elemen-elemen yang ada dan analisis terhadap unsur-unsur itu untuk memperoleh pemahaman linguistik, kultural, dan konteks eksternal maupun internal lainnya.

 

Strategi Penerjemahan Metafora

Seperti dijelaskan sebelumnya, strategi penerjemahan adalah langkah-langkah yang digunakan dalam memecahkan masalah-masalah penerjemahan. Karena metafora merupakan bentuk ungkapan yang paling sulit diterjemahkan, beberapa ahli mencoba merumuskan strategi khusus untuk menerjemahkannya. Ahli penerjemahan yang pertama kali berkontibusi signifikan bagi penerjemahan metafora adalah Dagut, Newmark dan Larson. Menurut Dagut (1987: 28), metafora merupakan sebuah penyimpangan kreatif terhadap sistem semantis. Oleh karena itu, secara teoretis, metafora tidak memiliki ungkapan yang sepadan dalam bahasa lain. Jika penerjemahan terminologi-terminologi yang diinstitusionalkan, seperti polisemi dan idiom dilakukan melalui substitusi (menemukan dan mengedit padanan-padanan yang telah tersedia dalam Bsa), penerjemahan metafora merupakan aktivitas penciptaan ulang (a re-creation job). Dengan kata lain, penerjemah harus mereproduksi metafora-metafora yang berterima dalam konteks linguistik dan budaya BSa. Akan tetapi, Dagut tidak memberikan uraian mengenai strategi-strategi yang dapat digunakan untuk menerjemahkan metafora.

Newmark merupakan salah satu pakar penerjemahan yang yakin bahwa metafora dapat diterjemahkan. Menurut Newmark (1981: 88-91), secara garis besar, penerjemahan metafora dilakukan dalam dua langkah: (1) mengidentifikasi tipe metafora yang akan diterjemahkan, dan (2) menentukan prosedur penerjemahan yang sesuai untuk mengalihkan metafora tersebut ke dalam BSu.  Dia menyarankan tujuh prosedur atau strategi penerjemahan metafora berikut.

Pertama, menerjemahkan metafora BSu menjadi metafora yang sama dalam BSa dengan cara mereproduksi citra yang sama di TSa. Strategi ini sesuai untuk metafora yang memiliki frekuensi dan keberlakuan yang sepadan antara BSu dan BSa.

Ke dua, mengganti citra dalam BSu dengan citra standar  yang berterima dalam BSa, atau menerjemahkan metafora menjadi metafora lain namun dengan makna yang sama. Strategi ini dapat digunakan dengan baik jika frekuensi citra dalam register BSa sama dengan dalam register BSu. Pendekatan ini lazim digunakan untuk menerjemahkan metafora standar yang kompleks, seperti idiom dan pepatah yang citranya selalu mengandung konotasi kultural sehingga tidak dapat diterjemahkan secara semantis ke BSa.

Ke tiga, menerjemahkan metafora menjadi simile sambil mempertahankan citra. Strategi ini sesuai digunakan jika citra BSu tidak memiliki kesepadanan di dalam BSa. Sebagai contoh, “He is hanging on a thread in the coming competition” diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi simile “Nasibnya bagai telur di ujung tanduk dalam kompetisi mendatang.”

Ke empat, menerjemahkan metafora menjadi sebuah simile dengan menambahkan citra. Strategi ini sesuai digunakan jika citra BSu tidak memiliki kesepadanan di dalam Bsa,  penerjemah dapat mengubah metafora tersebut menjadi sebuah simile. Sebagai contoh, ungkapan “I read you like a book” dapat diterjemahkan menjadi “Aku memahami kamu semudah memahami buku.”

Ke lima, mengubah metafora menjadi makna harfiah (sense). Strategi ini untuk menerjemahkan metafora yang sarat dengan makna harfiah atau register (termasuk frekuensi, tingkat formalitas, muatan emosional, dan keumuman). Sebagai contoh, ungkapan “His business continues to flourish” dapat diterjemahkan menjadi “Bisnisnya terus maju pesat.”

Ke enam, menghapus metafora jika metafora tersebut tidak ada manfaatnya, atau hanya membuat TSa menjadi bertele-tele. Sebagai contoh, ungkapan “Your definition is easy to perceive. “He is a snail; he always walks slowly”, cukup diterjemahkan menjadi “Dia berjalan lambat sekali”.

Ke tujuh, menggunakan metafora yang sama yang dikombinasikan dengan deskripsi harfiah atau keterangan tambahan diantara dua tanda baca koma. Prosedur ini digunakan untuk menerjemahkan metafora yang tidak memiliki padanan berterima dalam BSa. Dalam konteks ini, keterangan tambahan tersebut digunakan untuk memperkuat citra agar metafora itu dipahami pembaca TSa.

Newmark menyusun daftar strateginya berdasarkan preferensi. Dengan kata lain, disarankan agar penerjemah memprioritaskan penggunaan masing-masing strategi tersebut sesuai dengan urutan dalam daftar di atas. Strategi kedua digunakan jika, misalnya karena benturan budaya, strategi pertama tidak dapat digunakan. Strategi ketiga dipakai hanya jika strategi ke dua tidak sesuai dengan kebutuhan, dan seterusnya.

Sama dengan Newmark, Larson (1988: 278-279) yakin bahwa metafora dapat diterjemahkan setelah penerjemah mengidentifikasi unsur-unsur pembentuknya, yaitu topik, citra dan titik kesamaan. Selain itu, penerjemah juga harus mengetahui konteks ungkapan secara menyeluruh agar makna metafora tersebut dapat dipahami. Larson juga mengusulkan lima strategi penerjemahan metafora berikut.

Pertama, menerjemahkan metafora BSu menjadi metafora yang sama di dalam BSa. Hal ini dapat dilakukan jika metafora itu berterima atau dapat dipahami pembaca TSa tanpa adanya salah pengertian. Sebagai contoh, metafora bahasa Inggris “economic growth” dan “flow of traffic” dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi metafora “pertumbuhan ekonomi” dan “arus lalu lintas”.

Ke dua, menerjemahkan metafora BSu menjadi sebuah simile jika dalam sistem BSa membuat simile lebih mudah dipahami daripada metafora. Sebagai contoh, metafora bahasa Inggris “The road is a snake’, yang mengungkapkan bahwa bentuk jalan tersebut berbelok-belok seperti seekor ular, lebih baik diterjemahkan menjadi simile “Jalan itu seperti ular.”

Ke tiga, menerjemahkan metafora BSu menjadi metafora lain dalam BSa tapi memiliki makna yang sama dengan metafora BSu tersebut. Sebagai contoh, ungkapan ““icy needles” lebih baik diterjemahkan menjadi “jarum-jarum dingin” ke dalam bahasa Indonesia. Kedua metafora ini memang sangat berbeda. Akan tetapi, karena dalam kultur bahasa Indonesia citra ‘dingin” lebih sesuai daripada citra “icy”, sehingga makna metafora “jarum-jarum dingin” lebih mudah dipahami daripada “jarum-jarum es”, maka penerjemahan tersebut akan lebih efektif.

Ke empat, menerjemahkan metafora BSu menjadi metafora yang sama di dalam BSa yang disertai dengan penjelasan tentang makna metafora tersebut. Sebagai contoh, metafora “The tongue is a fire” bisa diterjemahkan menjadi “Lidah adalah api. Api menghanguskan benda-benda, dan ucapan kita bisa menyakiti orang lain.”

Ke lima, menerjemahkan metafora menjadi menjadi ungkapan non-metaforis. Dengan demikian, TSa berubah menjadi ungkapan dengan makna harfiah. Strategi ini biasanya digunakan untuk menerjemahkan metafora berbentuk idiom yang kesan metaforisnya benar-benar hampir tidak disadari penutur. Sebagai contoh, metafora “He was a pig’ diterjemahkan menjadi “Dia sangat berantakan” atau “Dia tidak pernah rapi”.

Jika daftar strategi Newmark dan Larson di atas dibandingkan, terlihat tidak ada perbedaan substansial. Jumlah strategi Newmark lebih banyak karena adanya dua strategi yang tidak terdapat dalam daftar Larson: (a) pengalihan metafora menjadi simile dengan menambahkan citra; dan (b) strategi penghapusan. Kedua strategi ini pada dasarnya dapat digunakan hanya dalam penerjemahan teks prosa, bukan dalam penerjemahan puisi. Sebagai contoh, setiap kata dalam puisi sarat dengan makna. Oleh karena itu, strategi penghapusan harus dicegah. 

Beberapa penelitian terkini memperlihatkan bahwa strategi penerjemahan metafora yang diusulkan Newmark dan Larson tersebut dapat diterapkan. Penelitian Pardede (2013) mengungkapkan ke 174 metafora bahasa Indonesia dalam antologi puisi On Foreign Shores: American Image in Indonesian diterjemahkan dengan menggunakan tiga strategi, yaitu: (1) menerjemahkan metafora menjadi metafora yang sama (59,8%); (2) menerjemahkan metafora menjadi metafora lain tapi bermakna sama (35,6%); dan (3) menerjemahkan metafora menjadi ungkapan non-metaforis atau makna harfiah (4,6%). Penelitian Waluyo (2007) mengungkapkan bahwa strategi penerjemahan yang digunakan untuk mengalihkan 100 metafora bahasa Indonesia dalam penerjemahan novel Saman ke dalam bahasa Inggris adalah: (1) penerjemahan metafora menjadi metafora yang sepadan; (2) parafrase; (3) penerjemahan metafora menjadi metafora yang berbeda namun dengan makna yang sama; (4) penerjemahan harfiah. Penelitian Sudrama (2003) mengungkapkan bahwa metafora bahasa Inggris dalam novel Master of the Game karya Sidney Sheldon ke dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan tiga strategi, yakni: menerjemahkan metafora ke dalam metafora, menerjemahkan metafora menjadi simile, dan menerjemahkan metafora menjadi ungkapan harfiah.

Aspek-Aspek yang Memengaruhi Pemilihan Strategi Penerjemahan Metafora

Untuk memilih metode penerjemahan yang baik bagi sebuah metafora tertentu, penerjemah perlu membuat pertimbangan menyeluruh terhadap semua aspek, termasuk tujuan penerjemahan, target pembaca dan jenis teks. Berikut ini adalah uraian singkat terhadap ketiga aspek tersebut.

1. Tujuan Penerjemahan

Penerjemahan pada umumnya bertujuan untuk menghasilkan teks tertentu bagi pembaca kalangan tertentu di lingkungan tertentu. Maksud dan tujuan penerjemahan tersebut merupakan faktor kunci yang secara signifikan mempengaruhi prinsip-prinsip yang digunakan penerjemah. Misalnya, jika tujuannya adalah untuk menyampaikan nilai-nilai budaya BSu, penerjemah akan memberi penekanan pada BSu sebanyak mungkin. Jika tujuannya adalah untuk memastikan bahwa teks terjemahan memiliki muatan emosional dan persuasif yang sama seperti aslinya, penerjemah akan menggunakan strategi lain, untuk memastikan pembaca dapat memahami hasil terjemahan dengan baik.

2. Pembaca Target

Setiap penerjemahan berorientasi pada publik BSa, karena menerjemahkan adalah tindakan untuk menghasilkan teks bagi publik bahasa tertentu untuk tujuan tertentu dan kelompok pembaca tertentu dalam lingkungan tertentu (Nord, 1987: 12). Oleh karena itu, pembaca target dianggap sebagai faktor penting lainnya yang mempengaruhi pemilihan strategi penerjemahan oleh penerjemah. Hal ini megindikasikan bahwa sebelum menerjemahkan, penerjemah perlu bertanya diri sendiri: Siapa pembaca target? Apa latar belakang mereka (misalnya golongan sosial, usia dan jenis kelamin)? Apakah mereka berwawasan luas atau sederhana, awam atau ahli? Informasi seperti itu akan membantu penerjemah untuk memutuskan tingkat formalitas, kadar emosional, dan kesederhanaan yang perlu dia buat dalam proses penerjemahan.

3. Jenis Teks

Keputusan tentang pendekatan penerjemahan yang akan digunakan tidak terlepas dari faktor jenis teks. Semua teks memiliki fungsi ekspresif, informatif dan vokatif. Namun salah satu fungsi ini akan berperan dominan, sedangkan dua lainnya bersifat tambahan. Ketika menerjemahkan karya sastra, yang secara umum dianggap sebagai saluran budaya, penerjemah harus mereproduksi  bentuk dan isi BSu tanpa mengganggu “rasa” budaya TSu. Di sisi lain, penerjemahan karya ilmiah dan laporan teknis, yang fungsi didominasi oleh fungsi informatif, harus menggunakan register yang sesuai. Sedangkan pada teks vokatif, gaya yang dominan adalah persuasif atau imperatif. Oleh karena itu, terjemahan yang berhasil untuk teks jenis ini adalah yang memicu tanggapan yang diinginkan dari pembaca teks sasaran.

 

Kesimpulan

Meskipun lazim digunakan dalam komunikasi sehari-hari, metafora sering dijuluki sebagai ekspresi yang misterius karena maknanya sulit dijelaskan, apalagi diterjemahkan, sehingga metafora dipandang sebagai bagian paling sulit dalam tugas penerjemahan. Kesulitan itu diakibatkan oleh tiga factor. Pertama, metafora dalam BSu, pada hakikatnya, merupakan unsur semantik yang baru. Akibatnya, BSa tidak memiliki persediaan padanan untuk metafora itu. Kedua, metafora merupakan bagian dari sebuah bahasa, dan semua bahasa pada hakikatnya tidak terpisahkan dari budaya. Akibatnya, kebanyakan metafora sangat sarat dengan nilai-nilai budaya. Sehubungan dengan itu, metafora hanya dapat dipahami jika nilai-nilai budaya yang terkait dengannnya telah terlebih dahulu dipahami. Ketiga, metafora merupakan sarana untuk mengungkapkan makna secara kreatif, singkat, dan padat. Oleh karena itu, agar mampu menerjemahkan metafora, penerjemah harus mampu menulis secara kreatif. Karena ketiga faktor yang begitu kompleks tersebut, tidak sedikit linguis yang menganggap metafora tidak bisa diterjemahkan. Akan tetapi, sebagai bagian dari bahasa, metafora pasti bisa diterjemahkan.

Untuk membantu penerjemahan metafora, Newmark dan Larson mengajukan seperangkat strategi, yang diterapkan setelah terlebih dahulu mengidentifikasi tipe metafora yang akan diterjemahkan. Strategi tersebut mencakup: (1) menerjemahkan metafora BSu menjadi metafora yang sama di dalam BSa, (2) menerjemahkan metafora BSu menjadi sebuah simile jika dalam sistem BSa membuat simile lebih mudah dipahami daripada metafora, (3) menerjemahkan metafora BSu menjadi metafora lain dalam BSa tapi memiliki makna yang sama dengan metafora BSu tersebut, (4) menerjemahkan metafora BSu menjadi metafora yang sama di dalam BSa yang disertai dengan penjelasan tentang makna metafora tersebut, (5) menerjemahkan metafora menjadi menjadi ungkapan non-metaforis, (6) mengalihkan metafora menjadi simile dengan menambahkan citra, dan (7) menghapus metafora jika metafora tersebut tidak ada manfaatnya, atau hanya membuat TSa menjadi bertele-tele. Berbagai hasil penelitian terkini memperlihatkan bahwa strategi-strategi tersebut dapat diterapkan.

 

Referensi

Dagut, Menachem. “Can Metaphor be Translated.” Babel: International Journal of Translation, 22(1),1987

Larson, Mildred L. Meaning-Based Translation: a Guide to Cross-Language Equivalence. (Lanham and London: University Press of America, 1998).

Newmark, Peter. Approaches to Translation: A Guide to Cross-Language Equivalence. (Oxford: Pergamon Press, 1981).

_______. A Textbook of Translation. (New York: Prentice-Hall International, 1988).

Nord, C. Translating as a Purposeful Activity: Functionalist Approaches Explained. (Manchester: St. Jerome Publishing, 1997)

Pardede, Parlindungan (2013). Strategi Penerjemahan Metafora Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris dalam Antologi Puisi on Foreign Shores: American Image in Indonesian Poetry. Jakarta: Universitas Kristen Indonesia. Diunduh 4 Desember 2013 dari: https://drive.google.com/file/d/0B7pJkzTapTsONkp3R21v SFdGbFU/edit?usp=sharing

Snell-Hornby, Mary. Translation Studies: An Integrated Approach. (Amsterdam: John Benjamins Publishing Company, 1955)

Sudrama, K. (2003). Strategies for Translating into Indonesian English metaphors in the novel “Master of the Game”: A case study. (Thesis). Denpasar: Udayana University.

van den Broeck, Raymond. The Limits of Translatability Exemplified by Metaphor Translation. Dalam Poetics Today, Vol. 2, No. 4, pp. 73-87 (Duke University Press, 1981), 2011 http://www.jstor.org/ stable/1772487 (diakses 15 Februari 2011)

Waluyo, T. N. (2007) The translations strategies of Indonesian metaphors into English. (Magister Thesis) Jakarta: Gunadarma University.

Advertisements