Tags

, , , ,


Teman-teman perserta Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Populer!

James Joyce, penyair Irlandia terkenal, pernah mengatakan kesalahan adalah gerbang penemuan. Dalam hidupnya, manusia sering mengahasilkan berbagai hal hebat setelah melakukan banyak kesalahan. Bahkan, banyak individu menjadi orang terhebat di profesinya setelah melakukan banyak kesalahan. Para pilot, atlit kenamaan, atau musisi kelas dunia pada awalnya melakukan berbagai keslahan. Namun setelah menyadari kesalahan yang mereka lakukan dan berupaya tidak mengulanginya, mereka menjadi yang terbaik di bidang masing-masing.

Kesalahan bukanlah kutukan. Kesalahan justru merupakan karunia dalam bentuk kesempatan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang lebih baik. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar, menyesuaikan, berkembang, dan menyempurnakan. Yang penting, lihatlah setiap kesalahan sebagai titik awal, bukan  sebagai produk akhir.

Jika Anda melakukan kesalahan dalam latihan menulis, hal itu bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah jika Anda secara konsisten melakukan kesalahan yang sama dan tidak belajar serta melakukan perbaikan berdasarkan kesalahan itu.

Berikut ini saya sajikan analisis dan masukan saya pada beberapa alinea yang Anda tulis via Aspiring Writers. Semua alinea itu saya salin ke halaman blog ini agar setiap peserta dapat melihat dan belajar dari alinea-alinea tersebut. Analisis dan komentar saya tidak bersifat absolut. Dengan sengaja (mohon maaf untuk kesengajaan ini) saya menunjukkan berbagai keslahan yang dapat saya identifikasi dengan menggunakan konsep-konsep yang saya paparkan dalam artikel saya Memahami Alinea. Harapan saya, Anda semua belajar dan semakin mahir menulis setelah melihat kesalahan-kesalahan tersebut. Dalam analisis, tanda coretan (garis) berarti sebaiknya bagian yang tercoret dihilangkan. Sedangkan kata dalam tanda kurung […] adalah kata atau ungkapan pengganti atau perbaikan.

Akhir kata, semoga bermanfaat!

1. Yulia Fourwanti

Setiap tindakan pasti berdasarkan [dilandaskan pada] alasan tertentu. Begitu pula [halnya] dengan memilih program studi kuliah. Salah satu alasan saya memilih Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, program studi kKimia, adalah karena saya ingin menjadi guru kKimia dan [yang bisa] membuat kimia [mata pelajaran ini] disenangi siswa. Saat saya SMA , kKimia terdengar seperti hal yang “menakutkan”. Tidak sedikit dari teman saya yang lebih memilih untuk membolos pada jam pelajaran kKmia dengan alasan kimia [mata pelajaran ini] sulit dipahami. Namun, saat saya kelas 3 SMA, guru kKimia saya merubah semua anggapan itu. Ia membuat kKimia menjadi begitu menyenangkan, mudah dipahami, dan sederhana. Yang saya lihat dari cara beliau mengajar adalah [Hal ini beliau lakukan] dengan cara membawa suasana [membuat kegiatan] belajar seperti sedang “curhat” dan bermain. Begitulah caranya membuat [Hasilnya], kKimia menjadi terlihat lebih mudah dan menyenangkan. Sungguh saya kagum dengan [mengagumi kemampuan] beliau yang bisa mengubah hal “menakutkan” menjadi sangat menyenangkan. Karena itu, saya begitu [Pengalaman itu memotivasi saya untuk] menekuni program studi kKimia saat ini agar saya bisa menjadi guru kKimia yang baik dan [dapat] membuat kimia disenangi sampai menjadi mata pelajaran favorit [bagi] para siswa. Selain itu, saya memilih program studi kimia karena memang saya memang menyenangi kimia ilmu ini. dan pada dasarnyakan memang [Kesenangan itu timbul dari pemahaman bahwa] semua yang ada di dunia [alam] ini mempunyai sifat kimia. Mulai dari [Dengan menguasai] teori-teori yang ada hingga rumus-rumus untuk semua larutan, [pemahaman saya mengenai alam akan semakin mendalam]. Aku mencintai kimia.

Catatan:
1. kata berdasarkan  perlu diganti dengan ‘dilandaskan pada’ karena Pokok Kalimat ‘tindakan’ bukan pelaku, jadi tidak bisa menggunakan kata kerja aktif.
2. Kata kuliah dihilangkan karena keberadaan kata ini membuat makna frasa “program studi” terganggu, bahkan tidak jelas.
3. Sebagai sebuah ilmu atau mata pelajaran, Kimia harus diawali oleh huruf kapital.
4. Silahkan dipikirkan catatan-catatan lain.

Berdasarkan analisis di atas,  hasil revisi menjadi seperti alinea berikut.

Setiap tindakan pasti dilandaskan pada alasan tertentu. Begitu pula halnya dengan memilih program studi. Salah satu alasan saya memilih Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, program studi Kimia, adalah karena saya ingin menjadi guru Kimia yang bisa membuat mata pelajaran ini disenangi siswa. Saat saya SMA, Kimia terdengar  “menakutkan”. Tidak sedikit  teman saya yang lebih memilih bolos pada jam pelajaran Kmia dengan alasan mata pelajaran ini sulit dipahami. Namun, saat saya kelas 3 SMA, guru Kimia saya merubah semua anggapan itu. Ia membuat Kimia menjadi begitu menyenangkan, mudah dipahami, dan sederhana. Hal ini beliau lakukan dengan cara membuat kegiatan belajar seperti sedang “curhat” dan bermain. Hasilnya, Kimia menjadi terlihat lebih mudah dan menyenangkan. Sungguh saya mengagumi kemampuan beliau yang bisa mengubah hal “menakutkan” menjadi sangat menyenangkan. Pengalaman itu memotivasi saya untuk menekuni program studi Kimia saat ini agar saya bisa menjadi guru Kimia yang baik dan dapat membuat kimia menjadi mata pelajaran favorit bagi para siswa. Selain itu, saya memilih program studi kimia karena saya memang menyenangi ilmu ini. Kesenangan itu timbul dari pemahaman bahwa semua yang ada di alam ini mempunyai sifat kimia. Dengan menguasai teori-teori yang ada hingga rumus-rumus  semua larutan, pemahaman saya mengenai alam akan lebih mendalam. Aku mencintai kimia.

2. Chrisce Headquakerzx Cool

[Memilih profesi di] masa depan itu sama dengan cara [proses yang] kita [tempuh sewaktu] membeli [sebuah] baju yang bagus. pPasti ada beberapa alasan mengapa kita membelinya [memilihnya]. Sama halnya dengan saya,untuk memilih dan menentukan masa depan saya yang baik dan gemilang,saya memilih FKIP,khususnya Program studi Bahasa Inggris. [Saya memilih kuliah di program studi Bahasa Inggris karena yakin ilmu dan keahlian yang saya peroleh dari program studi ini akan memampukan saya meraih masa depan yang baik dan gemilang. (Alasan ini perlu didukung oleh detil yang memadai)  Disamping itu, ada beberapa alasan kenapa saya memilih Prodi ini. pertama, saya ingin menunjukkan kepada orang tua saya bahwa Bahasa atau Bahasa iInggris adalah Sseni untuk berkomunikasi. yang digunakan di setiap waktu, tempat dan tanpa memandang siapa penggunanya oleh seluruh bangsa di dunia. (Esensi menunjukkan hal tersebut kepada orang tua terkesan “tidak logis”, mungkin karena tidak didukung oleh keterangan yang memadai) dan yang lebih jelas lagi, sSaya ingin membuat orang tua saya bangga atas prestasi yang saya lakukan. (Prestasi apa?) Kedua, dikarenakan Bahasa atau bahasa iInggris adalah seni untuk berkomunikasi. saya berusaha untuk bagaimana [akan] mengembangkan skills atau menerapkannya hal tersebut ke dalam kehidupan nyata, sebagai contoh: bagaimana kita dapat [dengan cara] berkomunikasi melalui media sosial (Facebook, twetter, Ebay, Skeype, dll) ataupun Fface to face. Zaman semakin berkembang dan cara berkomunikasipun semakin maju. sudah selayaknya kita dapat memanfaatkan hal tersebut demi menunjangnya masa depan kita. Dan yang ketiga, dunia begitu luas. namun berkat teknologi, dunia serasa berada dalam genggaman tangan kita. setiap saat kita dapat berkomunikasi dengan teman-teman kita yang jauh maupun dekat. Menjalin relasi sangat diperlukan saat ini,apalagi untuk menentukan kesuksesan, kita butuh teman-teman yang selalu mendukung kita. Disamping itu, bahasa atau bahasa inggris dibutuhkan bukan hanya sebagai bahasa belaka, melainkan dapat digunakan untuk menjaga dan menjalin relasi terhadap orang lain(Duta besar,kerja sama perusahaan,dll) dengan baik. Karena itulah, saya memilih prodi bahasa inggris, untuk mengenal dunia yang luas melalui bahasa atau bahasa inggris sebagai seni untuk berkomunikasi dan menjalin relasi sebagai manusia yang produktif, aktif dan Kreatif.

Catatan:

1. Meskipun alinea ini diarahkan pada uraian tentang alasan pemilihan program studi bahasa Inggris, mayoritas kalimat justru membahas teknologi informasi. Akibatnya alinea kehilangan fokus.
2. Penulis bermaksud menjelaskan tiga alasan. Tapi, karena sebuah alasan tidak didukung oleh penjelasan (argumentasi, fakta, contoh) yang memadai melainkan oleh satu atau lebih alasan lain, yang muncul justru banyak sekali alasan. sebagai contoh, alasan pertama, “menggapai masa depan yang baik dan gemilang” tidak dijelaskan. Penulis langsung pindah pada alasan  “menunjukkan kepada orang tua saya bahwa  Bahasa Inggris adalah seni untuk berkomunikasi”, yang juga tidak didukung oleh penjelasan yang memadai. Bahkan, penulis langsung membicarakan alasan lain, yaitu “ingin membuat orang tua  bangga atas prestasi yang dilakukan”. Alasan ini, lagi-lagi tidak didukung oleh penjelasan. Demikian seterusnya.
3. Banyak kalimat dalam alinea ini tidak gramatikal karena terlalu panjang. Akibatnya, maknanya sulit ‘ditangkap’. Jauh lebih baik menggunakan kalimat-kalimat pendek tapi efektif. Kalimat pendek mudah dikontrol–mana subjek, mana prediket, mana objek, dan seterusnya.
4. Kata atau istilah asing, seperti “skill” dan “face to face” harus diberi tanda petik atau dicetak miring. Perlu diingat bahwa sebisa mungkin kita harus mengutamakan penggunaan kata atau istilah bahasa Indonesia. Jika kata atau istilah tersebut tidak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia, barulah istilah asing dapat digunakan.
 

3. Adelina Fransiska Shelaban

Hidup itu pilihan. Bahkan ada semboyan yang bertuliskan [menyatakan] “Life is [a] choice”. sebuah [Setiap] pilihan tentu nya [diambil] berdasarkan alasan [tertentu]. Begitu lah yang ada dalam hidup saya sekarang ini sebagai seorang mahasiswa. Setelah saya lulus dari bangku SMA, Puji Tuhan, saya mendapat beasiswa untuk kuliah di salah satu Uuniversitas di Jakarta. Tentu nya [Sebenarnya saya disodorkan] banyak pilihan yang saya temukan , yaitu pilihan untuk memilih salah satu program studi yang tidak sedikit ada di fakultas [yang ditentukan panitia] keguruan ilmu pendidikan. Bersyukur, saya senang dan tidak menyesal [Saya akhirnya] memilih program studi Bahasa Inggris. Nah, tentunya ada alasan dong mengapa saya memilih Bahasa Inggris. Alasan pertama mengapa saya memilih Bahasa Inggris, yaitu [program studi ini] karena saya TERTARIK. Sejak SMP saya sangat senang belajar bahasa iInggris. Saya tertarik untuk suka membaca kumpulan cerita berbahasa iInggris dan terdorong untuk menterjemahkannya, Saya suka [selalu] menterjemahkan setiap kata-kata yang jarang saya dengar sehingga dengan itu pengetahuan saya dalam hal berbicara juga meningkat. Alasan kedua mengapa saya memilih [program studi] Bbahasa Inggris adalah CITA-CITA MENJADI GURU. Keinginan saya sejak kecil adalah untuk mendidik generasi penerus bangsa dalam hal berbahasa Inggris., meningkatkan kemampuan mereka mulai dari menanamkan kosa-kata kepada mereka karena kita tahu [Apalagi] saat ini sangatlah kurang tenaga pendidik [sangat kurang] di Nnegara yang kita cintai ini, terutama di daerah-daerah tertinggal yang terdapat banyak anak-anak yang belum mengenal bahasa inggris. Dan aAlasan saya yang ketiga ialah “KESADARAN”. Saya menyadari [kenyataan] bahwa bahasa Inggris ialah bahasa International, bahasa yang harus kita pelajari dan mampu untuk dimengerti [kuasai agar mampu bersaing di era global saat ini]. Pernah terfikir [timbul] di benak saya untuk pergi ke salah satu Nnegara yang terkenal dan mampu berkomunikasi lewat bahasa inggris dengan penduduk yang ada di Nnegara tersebut. Maka dari itu saya telah [Ketiga alasan tersebutlah yang mendorong saya] memilih program studi bahasa Inggris dan bersungguh-sungguh untuk belajar mempelajarinya agar tujuan dan cita-cita saya tercapai.

1. Dari sisi fokus, alinea ini sudah bagus. Namun penulis perlu lebih cermat dalam memilih kata yang lebih tepat dan menggunakan gaya bahasa. Sebagai contoh, ungkapan “tentunya” adalah ragam bahasa lisan. Walupun artikel ilmiah harus menggunakan bahasa masyarakat awam, tidak berarti kaidah-kaidah penulisan boleh dilanggar “semau gue”.

2. Tanda petik (“…”) biasanya digunakan untuk menandai sebuah kata/istilah asing atau untuk memberi penekanan. Namun jika sebuah kata sudah diberi penekanan dengan cara menuliskannya dalam huruf kapital, seperti [karena saya “TERTARIK”], tanda petik dihilangkan saja, atau ditulis menjadi “tertarik”.

4. Dahlia Siahaan

[Erich Fromm, dalam bukunya “pPsikologi kKepribadian” menyatakan, “Cinta adalah jawaban untuk pertanyaan yang tidak perlu dijawab”. [Ungkapan ini saya rasakan sangat relevan dengan pengalaman bahwa] Terkadang kadang-kadang hal yang membuat kita menekuni profesi yang kita jalani adalah unsur dari [pengaruh] orang yang kita anggap sebagai panutan atau teladan. dalam diri kita. Hal tersebutlah yang juga [ini]  saya alami [ketika] saya mengambil [memilih] program studi FKIP BK(Bimbingan dan kKonseling) sebagai jurusan saya karena Guru BK di SMA saya begitu baik dan penuh kasih sayang dalam membimbing saya untuk dapat menyelesaikan [setiap] masalah apa yang menjadi penghalang dalam diri yang saya hadapi. Karena bimbingan dari guru saya tersebutlah yang membuat saya sampai sejauh ini yaitu [dapat] merantau di ke jJakarta ini. Guru saya [tersebut] selalu berkata bahwa kami harus menjadi seseorang yang mampu mengubah sesuatu hal yang kecil menjadi suatu hal yang luar biasa. Contoh nya saja melalui profesi [Saya berharap program studi] yang saya tekuni sekarang yaitu memampukan saya menjadi seorang guru BK. , saya berharap apabila saya nanti sudah [Setelah] menjadi guru, saya [ingin] terhindar dari segala macam penyakit seperti: TIPUS (Tidak punya selera), MUAL(mutu amat lemah), KUDIS(Kurang disipilin), ASMA(Asal masuk kelas), TBC(Tak bisa computer), KUSTA(Kurang strategi), KRAM(Kurang terampil), ASAM URAT(Asal Sampai materi kurang akurat), LESU(Lemah sumber), DIARE(dikelas anak-anak diremehkan). (Akronim berbagai “penyakit” ini sangat menarik, namun keberadaannya terkesan dipaksakan. Fungsinya sebagai penjelas menjadi seseorang yang mampu mengubah sesuatu yang kecil menjadi suatu yang luar biasa tidak kelihatan)  Hal-hal tersebutlah yang membuat saya sangat yakin dengan jurusan yang saya ambil saat ini, saya ingin mengubah dunia dan terutama mengubah diri saya terlebih dahulu sebagai calon seorang guru agar tidak menjadi guru yang memiliki penyakit seperti yang saya sebutkan diatas.

1. Kutipan yang mengawali alinea ini sangat menarik, namun terkesan tidak “nyambung” dengan topik yang akan dibahas. Menggunakan kutipan,  kata-kata mutiara, atau anekdot untuk mengawali tulisan adalah strategi yang sangat jitu. Tapi penulis harus yakin isi kutipan itu relevan (‘nyambung’) dengan topik atau isi tulisan. Jika tidak relevan, kutipan  kata-kata mutiara, atau anekdot tersebut justru menjadi bumerang karena merusak kesatuan (unity) alinea.

2. Alinea ini hanya mengungkapkan satu alasan. Bukankah alinea yang diminta harus memaparkan minimal dua alasan?

5. Frangky Rizky Agustinus

Untuk [mewujudkan sebuah] perubahan sangat diperlukan semangat juang [yang tinggi] dan kerja keras yang tidak putus asa. Untuk melakukan perubahan itu sendiri [Kedua hal itu] juga harus disertai dengan skill yang baik. Melihat keadaan pendidikan di Indonesia yang saat ini yang semakin merosot, seperti [sebagai akibat] tidak merataannya pendidikan, sistem pendidikan yang sering berubah-ubah, hingga kepemimpinan yang kurang baik. Pendidikan juga sudah memiliki banyak arah (maksudnya apa?). Indonesia selalu menginginkan [ingin] mencerdaskan bangsa, tetapi yang terjadi di lapangan tidak seperti yang diharapkan, Pendidikan sudah dicampur dengan politik. Mengadakan perubahan kurikulum, sistem dan standar kelulusan ditambah dengan anggaran Negara yang besar (Ini bukan kalimat!). Saudara ku yang di daerah masih banyak yang harus berjuang bahkan mempertaruhkan nyawa mereka untuk mendapat pendidikan, seperti harus bekerja dahulu, hingga menyebrangi sungai. Keinginan, impian dan harapan itulah yang memotivasiku untuk menjadi tenaga pendidik yang trampil dan handal. Dan menjadi guru matematika adalah profesi yang kuimpikan. Karena matematika merupakan pelajaran yang menarik. Matematika bukanlah pelajaran yang harus ditakuti lagi. Karena jika sudah mendalami dan mencintai matematika, akan melihat betapa indah dan ajaibnya matematika. Matematika juga selalu digunakan dalam kehidupan ini. Dalam matematika ada imajiner dan majiner. Didalam majiner mengajarkan sesuatu yang jelas dan pasti, yang dapat dihitung dan diselesaikan dengan aritmatika. Dan imajiner mengajarkan kita untuk dapat berimajinasi dan mengerjakan atau menghitung yang diimajinasikan atau yang tidak kelihatan. Untuk mencapai itu semua, FKIP UKI adalah tempatku melatih dan meraih impianku. Disini diajarkan berbagai ilmu, wawasan, serta keahlian yang sangat berguna untuk seorang guru. Mendidik dalam kasih yang membedakan FKIP UKI dengan yang lainnya. Itulah alasan kenapa FKIP UKI saya pilih menjadi dasar meraih impian tersebut. Karena guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, berarti guru harus mendidik, membimbing dan mengajarkan dengan sepenuh kasih dan tulus. Didalam kasih itu juga aku diajarkan bagaimana menjadi guru yang professional bermoral, berpendidikan dan bertanggung jawab. Sehingga semua keinginan, impian dan harapan tersebut dapat terealisasikan.

1. Hampir setengah bagian pertama alinea ini membahas kemerosotan pendidikan di Indonesia. Kelihatannya penulis ingin menyajikan pengantar sebelum membahas topik “Alasan mamilih program studi Matematika” (bagian berwarna ungu). Namun bagian pengantar terlalu panjang hingga membahas topik tersendiri. Akibatnya, sulit melihat, apa sebenarnya yang dibahas dalam alinea ini.

2. Bagian yang dimaksudkan penulis membahas “Alasan mamilih program studi Matematika” (bagian berwarna ungu) juga tidak fokus. Kadang-kadang penulis “menonjolkan” gambaran matematika. Di bagian lain, faktor-faktor yang membedakan FKIP UKI dari (fakultas/universitas?) lain menjadi sorotan. Namun semua poin itu kurang menyatu dengan topik “Alasan mamilih program studi Matematika”.

3. Penyebab utama kesalahan-kesalahan di atas adalah, penulis terlalu memaksakan diri membahas banyak hal dalam satu alinea. Padahal, menurut kaidah, sebuah alinea hanya membahas 1 (satu) topik!

Advertisements